Numb…

                

          Awalnya semua berjalan biasa saja… atau entah karena sudah terlalu terbiasa… pemakluman, kesabaran, dan ekspektasi yang melebur menjadi sebuah penerimaan, tanpa disadari membuat diri terlalu kuat untuk mengeluh lelah… Untuk hal tertentu, well say.. ‘love’, kadang kita terlalu membiarkan diri untuk sebuah ‘penerimaan’ itu.  Ya, wanita… tidak semua wanita memang, tapi kebanyakan dari kita (wanita) cenderung memiliki tingkat toleransi yang tinggi, bahkan kadang tidak rasional, pada saat berhadapan dengan empat huruf nan ajaib itu.. L-O-V-E

              Terkadang, ingin rasanya bisa memposisikan diri sebagai pria, yang tidak terlalu melankolis ‘memperlakukan’ hal itu.  Love, love, love… who the hell are you??? sometimes you make us smile, laugh, and even cry like a baby! Huufftthh…. Back to the 1st paraghraph!!

             Dengan pemakluman dan kesabaran  yang kita miliki, manusiawi sekali jika kita memiliki ekspektasi pada seseorang yang pada saat itu, atau mungkin saat ini masih menjadi  bagian dari skenario Tuhan yang sedang kita jalani.. Ekspektasi apa?? ekspektasi untuk ‘diwanitakan’.. tak perlu bertanya apa maksud dari  ‘diwanitakan’ itu, karena itu bukanlah sebuah kata yang dapat didefinisikan dengan istilah-istilah yang terlahir dari kamus J.S. Badudu, melainkan suatu ‘perlakuan’ yang harus diimbangi dengan kedewasaan berpikir & bertindak, serta konsistensi..  Is that too much?? i guess no!!  Tapi itu semua kembali pada pribadi ‘tokoh’ kiriman Tuhan yang kita hadapi, ada yang berpikir jika ekspektasi itu terlalu berlebihan, namun ada pula yang menganggapnya sangat manusiawi…                   Ada kalanya disaat diri dan hati ini merasa cukup (bahkan lebih) memberikan pemakluman dan kesabaran, tanpa terpenuhinya (atau dengan kata lain) tanpa dipedulikannya ekspektasi-ekspektasi yang sangat manusiawi tadi, dan itu terjadi secara berulang..  Salahkah jika lelah itu tiba-tiba hadir??

                 Dan saat lelah itu menjalar tak berakar.. jiwa, asa, dan rasa ini lambat laun semakin tak berasa… Bukan karena tak ada lagi kata-kata ajaib itu antara kita dan mereka, tapi karena kita tau.. butuh waktu untuk mengembalikan semua pada porsinya seperti semula, dan itu tidak bisa dipaksakan pada saat diri terlalu lelah … Lelah untuk sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa formal ciptaan manusia..

               Jangan pernah salahkan diri kita sendiri, mereka, atau bahkan waktu.. karena  waktu pun tak tau jalan cerita ini akan berputar ke arah yang berlawanan… Jalani saja, meski semua tak sama dengan cerita di khayal kita.. tapi skenario Tuhan lebih dahsyat dari yang kita duga.  Jangan pernah menyesal, karena apa yang telah kita korbankan sebenarnya bukanlah pengorbanan.. karena pengorbanan yang hakiki tak kan pernah kita sebut dengan pengorbanan, sebut saja yang kemarin itu adalah kado kecil yang mungkin bisa bermetamorfosis menjadi sesuatu yang besar, suatu saat nanti…….

Dear love,

i don’t give up…. i’m just done trying…..

Iklan

4 thoughts on “Numb…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s