For us..all of us…

Pagi ini, seperti biasa…dihangatkan oleh sapanya dalam jarak… dibangkitkan oleh semangat untuk segera mengakhiri senin yang selalu nampak lebih sangar dari hari lainnya..

Setelah dia, -lelaki yang selalu menjadi mood booster–  pagi ini pun dilengkapi oleh sapa sahabat lama, -one of my best girl- yang kemudian menarik diri ini utk membaca tulisannya yang dia ambil dari sebuah sumber… Let’s read 😉

Ada tiga peristiwa penting yang membahagiakan orang tua dalam hubungan dengan anaknya.

Pertama : Tatkala ia melahirkan putera/i nya sebelum melihat yang dilakukannya apakah cantik atau ganteng, ibu telah berbahagia. Tak ada kecantikan wanita yang paling alamiah kecuali sehabis melahirkan. Air susu ibu hanya keluar dikala cinta kasihnya hidup, tetapi jangan diharap akan mendapat air susu bila ibu sedang marah.

Kedua : Ketika seorang anak yang dibimbingnya dengan penuh kesabaran, mulai dari kandungan ibunya sampai masuk SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, suatu waktu ketika anak kembali dari Kampusnya membawa berita bahwa ia telah lulus sebagai Sarjana. Tiada terasa diciuminya anaknya dibasahi dengan cucuran air mata karena bahagia..

Ketiga : Ketika seorang anak memberi tahu ibunya bahwa ia telah memilih teman hidupnya. Mula-mula ragu-ragu dan penuh tanda tanya, bukan soal kekayaan, pangkat dan derajat yang dipersoalkan pertama, tetapi semua keluarga lega hati dan gembira, bila ternyata calon mantunya seagama.

Hari bahagia ibu bapak dan segenap keluarga bersama adalah hari pernikahan putra/i-nya. Kebahagiaan ini dicapai karena ibu bapak akan berdua membina rumah tangga sakinah sejahtera yang diikat dengan cinta kasih, rahmat dari Allah, karena tujuan berumah tangga bukan sekedar memenuhi naluri insane, tetapi ada nilai-nilai ritual dan sakral, karena merupakan pengabdian kepada Pencipta.  Subhanallaah…

Upacara nikah betapapun sederhananya tetap suci, agung dan hidmat, karena ia merupakan sebuah upacara ritual yang akan menghalakan sesuatu yang tadinya haram, kemudian menjadi halal karena izin Allah. Bila nikah karena kecantikan akan dibatasi dengan umur. Bila nikah karena kekayaan, kekayaan itu sukar dicari tetapi sangat mudah sekali perginya. Bila nikah karena pangkat, laksana mendaki gunung sukarnya, kadang-kadang dia pergi di waktu kita cinta kepadanya.

Menikahlah karena ibadah, meneruskan generasi manusia dan mencari ketentraman hidup yang hanya  dicapai bila terbinanya rumah tangga dari dua insan yang berlainan jenis dlm satu rumah tangga.

Bila itu dasarnya, buat yang dicari bukanlah suami yg dpt menyediakan rumah bersusun tiga atau memberi intan permata berlian yang ada di museum semuanya, tetapi yg buat cukup bahagia bila mempunyai suami yang memiliki delapan sikap dalam hidupnya.

PertamaCinta kepada isterinya seorang

Tidak menduakan cinta atau lebih dari pada itu. Betul dalam Undang-Undang Pokok Perkawinan Negara kita dan dalam syariat agama dibolehkan nikah lebih dari satu sampai empat, itu hanyalah pintu darurat seperti pintu darurat di kapal terbang. Semua kapal tidak diizinkan terbang kalau tidak punya pintu darurat, tetapi bukan untuk dipakai sembarang waktu. Sampai hari ini belum ada seribu satu kapal terbang yang menggunakan pintu daruratnya dikala kapal itu jatuh di lautan. Allah swt menyatakan bahwa sebaiknya rumah tangga itu terdiri dari seorang istri dan seorang suami karena bagaimanapun kalian berusaha membagi cinta secara adil, tetap juga tak akan adil, ada lebih satu dari yang lain.

KeduaSuami yang sayang pada anak-anaknya

Walapun ia telah kembali kerja tetapi anak rindu bapak, dibopong juga anaknya, diciumi dan diajak bercakap-cakap. Sesuatu yang menjengkelkan setiap wanita, bila anaknya disuruh pergi ketika mereka mengerumuni bapaknya yang baru datang.

Ketiga: Sayang kepada ayah bunda mertua

Yang baik adalah antara suami isteri bertukaran ayah bunda. Tidak ada kenikmatan buat ayah bunda kecuali menerima kiriman dari menantu, walaupun hanya secawan kopi atau sebungkus rokok. Bibit kebakaran dalam rumah tangga bila berkirim kepada ibunda diantarkan dengan bingkisan: suami jangan tahu, atau sebaliknya dilakukan demikian oleh ananda.

Keempat: Baik dengan tetangga

Family terdekat itu bukan yang ada di Bandung atau Surabaya, tetapi mereka yang satu atau dengan rumah kita. Kalau kesulitan tengah malam, kebakaran atau anak sakit keras yang diminta tolong pertama kali adalah tetangga.

KelimaTidak mengerjakan sesuatu yang menyakitkan isteri

KeenamTidak sembunyi-sembunyi dari isteri

Segala sesuatu terus terang. Tidak menyimpan uang di laci kantor, di dalam mobil atau di tempat lain dengan tujuan isteri tidak mengetahuinya.

Isteri yang selalu diajak bruk brak (terus terang/terbuka) oleh suami, bila ada kesulitan isteri akan berkata: “Jual saja gelang kanda, kalung cincin atau apa lagi.”

Tetapi sebaliknya suami yang salingkuh (red: sunda) bila ada kesulitan mendadak, isteri akan berkata: “rasain biar dia tahu, kajeun teuing, kumaha dinya, puas bonganna”, dan macam-macam lagi diucapkan oleh isteri kepada suami.

KetujuhSuami yang punya idealism, punya wawasan dalam hidupnya, tidak sekedar asal hidup, terserah bagaimana jadinya.

Idealism bagi keluarga, bagi lingkungan sekitarnya serta bagi hari kemudian.

Kedelapan: Adalah syarat mutlak bagi suami, ialah suami ideal sekali bila suami dapat menghamparkan sehelai sejadah di kamar tidurnya dan senantiasa disiplin menyembah Allah pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Sebab bagaimana pun sekurang-kurangnya seseorang, orang yang ibadah tidak akan lebih kurang dari segala yang kurang di dunia ini.

Demikianlah suami yang ideal. :)

Sebaliknya isteri yang ideal itu adalah isteri yang mempunyai delapan sifat yang utama juga:     ;)

Pertama : Isteri yang pandai menjaga harga dirinya, karena harga dirinya adalah harga suaminya dan sebaliknya.

Kedua : Pandai menjaga harta benda suaminya, walaupun hanya sebuah pulpen yang sudah rusak, tetap dijaga dan diriksa.

Ketiga : Sayang pada ayah bunda mertuanya

Keempat : Baik dengan tetangganya

Kelima : Tidak mengerjakan sesuatu yang membuat pusing hati suami

Keenam : Tidak sembunyi-sembunyi dari suami

Ketujuh : Punya wawasan hari depan

Kedelapan : Mampu menghamparkan sajadah yang kedua di belakang sajadah suaminya.

Bangun tengah malam, sembahyang bersama. Suami menjadi Imam dan isteri menjadi makmum. Terasa nikmat daripada naik Mercedes walau milik sendiri.

….

(Khutbah Nikah –part 1– dlm buku Rumahku Sorgaku oleh DR. K.H. E.Z. MUTTAQIEN, Kampus Unisba 12 November 1983)

Thx my bestgirl…. *smooch*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s