New Role, New Mood (1)

Hello (again) LDR

“distance makes us stronger” … ya gitu sih mantra-mantra saat self-hypnotheraphy, biasanya. LOL! gampang ya? gampang banget doooong nulisnya mah, prakteknya?? ulalaaaa ciaobellaaaa! *jambakjambakrambut* ya berhubung dari kenal sampe nikah antar benua gini *lebayyy* jadilah kami makin terbiasa. Pacaran, jauhan. OK. Nikah, jauhan. OK. Punya anak, jauhan…ok, untuk yang satu ini ok nya agak berat ya bok! saat bekas2 jaitan SC ini masih cenat-cenut, baby blues masih menghantui, sendi-sendi masih ngilu-ngilu, rasanya udah ga bisa nangis kalo mikirin jarak..ga boleh nangis, lebih tepatnya! there was no manja-manja moment. Saat dimana ibu-ibu muda yang baru aja lahiran masih dimanja-manja, santey-santey, dan banyak me time demi asi, emaknya non quinna ini sebisa mungkin meng-hepi-kan diri sendiri dengan cara-cara yang sederhana, mengingat dan menimbang banyak hal terutama financial..hahaa #iritology

Honestly, LDR is not easy kan yaa, apalagi long distance marriage. Emotionally, mentally, financially. Terutama untuk pasangan-pasangan muda belia seperti kami #yakali 😀 Dua tahun merintis, cukup membuat kami menjadi lebih dewasa, terlebih kami bukanlah anak yang dimudahkan dengan segala fasilitas orang tua, dari kecil hingga berkeluarga seperti saat ini.  Orang tua kami, alhamdulillah, berkecukupan -bukan berlebihan- tapi kami sama-sama dididik dan dibesarkan dengan cara yang sederhana. Dan alhamdulillah-nya hal itu justru yang bisa bikin kami sama-sama tidak saling mengandalkan, tapi saling mengisi *nunggu suami ngisi rekening* 😀 Ga lah, maksudnya ya gimana pun kondisinya, kita harus tetap disini, bersama, jangan ada yang kemana-mana.. :’) *emak mendadak terharu*

Ngejalanin hari-hari baru jadi ibu, tanpa si suam yang menemani setiap hari, cukup bikin hati dan kepala ini terus berusaha buat bekerjasama dengan baik. Ngelonin anak sambil mewek, masangin diapers sambil ngegerutu, kadang ga sadar memohon-mohon sama non quinna untuk tidur dengan nada yang tinggi karena dia susah banget tidur sementara emaknya udah migrain seharian, nenenin sambil nginget-nginget momen paling hepi walopun lagi bad mood agar demi kelancaran si asi, sudah terlewati.  Dan itu ga cuma sehari dua hari, hampir tiap malam.  Dan sesering itupun emaknya ini berusaha untuk memperbaiki diri, menenangkan pikiran, self-hypnotheraphy (again and again).  Belum lagi perasaan ga enak sebagai anak yang masih aja nyusahin ibunya (neneknya non quin) buat jagain dia seharian selama emaknya ini ngantor, dan akhirnya mamah jg harus LDR-an sama bapa demi cucunya :’)

Semua itu menuntut diri ini untuk lebih macho dari sebelumnya, ya macho lahir batin pokonya.  Mulai dari masang gas, masang galon, sampe belajar buat senyum tegar aja tiap ada pasangan-pasangan muda yang lagi sweet-sweetnya jalan bareng baik di dunia nyata atau di dunia maya..haghaghaagg! 😀 Ya itu baru secuil serba-serbi dan lika-liku emak-emak pemula yang jauh dari si suam.  Lama-lama ya makin biasa ngejalaninnnya, ya cuma biasa lah ya namanya juga mahluk moody, ada aja masa-masa roller coaster syndromenya mah 🙂

Nyari angin dulu ahh… c yaa! :*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s